expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Minggu, 16 Maret 2014

Kelompok 8 Pelabuhan Ratu



SEJARAH DAN KEHIDUPAN MASYARAKAT
PANTAI PELABUHAN RATU
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah sosiologi perikanan

 


Oleh:

Kelompok 8
Riani Aprianti Nurhasanah    230110130003
Siti Sopiah                                 230110130005
Ai Siti Nurhalimah                   230110130011
Aida Nurjanah                         230110130019
Elisah Fiyanih                          230110130024
Yulihda Fikrie                          230110130034

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2014
  






KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah, merupakan satu kata yang sangat pantas penulis ucakan kepada Allah STW, yang karena bimbingannyalah maka penulis bisa menyelesaikan sebuah makalah sebagai tugas mata kuliah sosiologi perikanan yang  berjudul "Sejarah dan Kehidupan Masyarakat Pantai Pelabuhan Ratu"
Makalah ini dibuat dengan berbagai pencarian sumber dalam jangka waktu tertentu sehingga menghasilkan karya yang bisa dipertanggungjawabkan hasilnya. Kami mengucapkan terimakasih kepada pihak terkait yang telah membantu kami dalam menghadapi berbagai tantangan dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karna itu kami mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.
Terima kasih, dan semoga makalah ini bisa memberikan sumbangsih positif bagi kita semua

Jatinangor , 6 Maret 2014



Penulis




DAFTAR ISI
Kata Pengantar ............................................................................................... i
Daftar Isi........................................................................................................ ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang ........................................................................................ 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tokoh-tokoh yang Mempengaruhi Perkembangan Sosiologi.................. 3
2.2. Kegunaan Teori....................................................................................... 7
2.3. Perkembangan Teori Sosiologi................................................................ 7
2.4. Teori Sosiologi Ekonomi......................................................................... 8
2.5. Ekonomi dan Sosiologi sebagai Disiplin Ilmu......................................... 9
2.6. Sosiologi Perikanan............................................................................... 11
BAB III PEMBAHASAN
3.1. Sejarah dan Mitos Pelabuhan Ratu........................................................ 13
3.2. Upacara Hari Nelayan........................................................................... 17
3.3. Kehidupan Nelayan Pantai Pelabuhan Ratu.......................................... 18
BAB IV PENUTUP
4.1. Kesimpulan............................................................................................ 23
4.2. Saran...................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 24




BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sebagai negara kepulauan yang dikelilingi laut, Indonesia mempunyai sumber daya alam yang besar baik sumber daya hayati maupun non hayati.  Selain perairan laut, luas daratan Indonesia juga menyimpan perairantawar  yang  begitu luas. Sebagaimana perairan laut perairan tawar juga menyimpan potensi sumber daya alam yang tidak sedikit yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan penduduk Indonesia.
Pembangunan sumberdaya perikanan menjadi salah satu andalan bagi bangsa Indonesia untuk turut serta mengatasi krisis moneter  yang  berlangsung sejak tahun 1997. Sejalan dengan arah kebijakan menekankan pada program  pengembangan agribisnis perikanan dengan tujuan menggalakkan perikanan budidaya yang berdaya saing dan berwawasan lingkungan, memperkuat dan  mengembangkan usaha perikanan tahapnasional secara efisien, lestari dan berbasis kerakyatan, memelihara kelanjutan sumber daya perikanan serta ekosistem perairan umum serta memperkuat pengawasan dan pengendalian dalam pemanfaatan sumber daya perikanan . Langkah-langkah tersebut merupakan upaya  konsisten untuk mencapai misi pembangunan perikanan yakni dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan dan pembudidaya ikan.
Peningkatan pera sektor perikanan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi nasional dan pembangunan daerah. Peningkatan kecerdasan dan kesehatan masyarakat, melalui peningkatan konsumsi ikan. Indonesia memiliki banyak sekali daerah pesisir mengingat Indonesia merupakan Negara Kepulauan. Salah satunya adalah daerah pesisir Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat yang terbentang sejauh 117 km. Pesisir Kabupaten Sukabumi memiliki potensi sumberdaya pesisir dan laut yang melimpah. Akan tetapi sumberdaya tersebut masih belum terkelola dengan baik. Salah satu yang menjadi perhatian utama dalam penelitian ini adalah kerusakan terumbu karang di beberapa tempat di wilayah Sukabumi.
Pantai Palabuhanratu, atau lebih populer sebagai Pantai Pelabuhan Ratu, adalah sebuah tempat wisata di pesisir Samudra Hindia di selatan Jawa Barat. Lokasinya terletak sekitar 60 km ke arah selatan dari Kota Sukabumi. Pantai ini dikenal memiliki ombak yang sangat kuat dan karena itu berbahaya bagi perenang pantai. Topografinya berupa perpaduan antara pantai yang curam dan landai, tebing karang terjal, hempasan ombak, dan hutan cagar alam. Karena tempat ini mempunyai daya tarik sendiri, Presiden Soekarno mendirikan tempat peristirahatannya pada tahun 1960 di Tenjo Resmi. Selain itu, atas inisiatif Soekarno pula didirikanlah Samudera Beach Hotel, salah satu hotel mewah pertama yang dibangun di Indonesia pada kurun waktu yang sama dengan Hotel Indonesia, Bali Beach Hotel, dan Toko Serba Ada "Sarinah", yang kesemuanya menggunakan dana pampasan perang dari Jepang.
Masyarakat pantai selatan khususnya Palabuhanratu percaya adanya penguasa laut selatan yaitu Ratu Kidul. Konon, ia adalah seorang ratu yang cantik bagai bidadari. Di Laut Selatan - nama lain dari Samudra Hindia - sebelah selatan Pulau Jawa, ia bertahta pada sebuah kerajaan makhluk halus yang besar dan indah. Pada bulan April biasanya masyarakat sekitar Palabuhanratu mengadakan ritual upacara adat Hari Nelayan. Hari Nelayan dimaksudkan sebagai syukuran atas rezeki yang telah mereka dapatkan dari hasil laut dan agar dijauhkan dari bencana. Biasanya dalam upacara ini disediakan sesaji berupa kepala kerbau yang nantinya akan dilarung ke tengah laut.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1.Tokoh-tokoh yang Mempengaruhi Perkembangan Sosiologi
Auguste Comte (1798 – 1857)
·         Bapak Sosiologi, anggapannya sosiologi terdiri dari dua bagian pokok, yaitu sosial statistik dan sosial dinamis.
·         Sebagai social statistics sosiologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara lembaga-lembaga kemasyarakatan.
·         Social dynamics meneropong bagaimana lembagalembaga tersebut berkembang dan mengalami perkembangan sepanjang masa.
Tiga tahap perkembangan pikiran manusia
a)      Tahap teologis, ialah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia ini mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh sesuatu kekuatan yang berada di atas manusia.
b)      Tahap metafisis, pada tahap ini manusia masih percaya bahwa gejala-gejala di dunia ini disebabkan oleh kekuatan-kekuatan yang berada di atas manusia.
c)      Tahap positif, merupakan tahap di mana manusia telah sanggup untuk berpikir secara ilmiah. Pada tahap ini berkembanglah ilmu pengetahuan.
Emile Durkheim (1858-1917)
Sosiologi meneliti lembaga-lembaga dalam masyarakat dan proses-proses sosialnya. Sosiologi dibagi ke dalam tujuh seksi, yakni :
a.       Sosiologi umum yang mencakup kepribadian individu dan kelompok manusia
b.      Sosiologi agama.
c.       Sosiologi hukum dan moral yang mencakup organisasi politik, organisasi sosial, perkawinan dan keluarga.
d.      Sosiologi tentang kejahatan.
e.       Sosiologi ekonomi yang mencakup unuran-unuran penelitian dan kelompok kerja.
f.       Demografi yang mencakup masyarakat perkotaan dan pedesaan.
g.      Sosiologi estetika.
 Max Weber (1864-1920)
§  Sosiologi adalah ilmu yang berusaha memberikan pengertian tentang aksi-aksi sosial.
§  Teori Ideal Typus, yaitu suatu kosntruksi dalam pikiran seorang peneliti yang dapat digunakan sebagai alat untuk menganalisis gejala-gejala dalam masyarakat.
§  Ajaran-ajarannya sangat menyumbang sosiologi, misalnya analisisnya tentang wewenang, birokrasi, sosiologi agama, organisasi-organisasi ekonomi dan seterusnya.
Charles Horton Cooley (1864-1929)
Mengembangkan konsepsi mengenai hubungan timbalbalik dan hubungan yang tidak terpisahkan antara individu dengan masyarakat. Teorinya mengidamkan kehidupan bersama, rukun dan damai sebagaimana dijumpai pada masyarakatmasyarakat yang masih bersahaja. Prihatin melihat masyarakat-kasyarakat modern yang telah goyah norma-normanya, sehingga masyarakat bersahaja merupakan bentuk ideal yang terlalu berlebih-lebihan kesempurnaannya.
Pierre Guillaurne Frederic Le Play (1806-1882)
Mengenalkan metode tertentu di dalam meneliti dan menganisis gejala-gejala sosial yaitu dengan jalan mengadakan observasi terhadap fakta-fakta sosial dan analisis induktif. Kemudian dia juga menggunakan metode case study dalam penelitian-penelitian sosial. Hasil penelitiannya, bahwa lingkungan geografis menentukan jenis pekerjaan, dan hal ini mempengaruhi organisasi ekonomi, keluarga serta lembaga-lembaga lainnya.
Ferdinand Tonnies
Teorinya mengenai Gemeinschaft dan Gesellschaft sebagai dua bentuk yang menyertai perkembangan kelompok-kelompok sosial.  Gemeinschaft (paguyuban) adalah bentuk kehidupan bersama dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal.  Gesellschaft (patembayan) merupakan bentuk kehidupan bersama yang merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok dan biasanya untuk jangka waktu yang pendek.
Leopold Wiese (1876-1949)
Sosiologi adalah penelitian terhadap hubungan antar manusia yang merupakan kenyataan sosial. Objek khusus sosiologi adalah interaksi sosial atau proses sosial.
Alfred Vierkandt (1867-1953)
Sosiologi terutama mempelajari interaksi dan hasil interaksi tersebut. Masyarakat merupakan himpunan interaksi-interaksi sosial, sehingga sosiologi bertugas untuk mengkonstruksikan teori-teori tentang masyarakat dan kebudayaan. Dasar semua struktur sosial adalah ikatan emosional;tak ada konflik antara kesaradan individual dengan kelompok, oleh karena itu individu tunduk pada tujuan kelompoknya.
Lester Frank Ward(1841-1913)
Sosiologi bertujuan untuk meneliti kemajuan-kemajuanmanusia. Ia membedakan antara pure sociology (sosiologimurni) yang meneliti asal dan perkembangan gejala-gejala sosial, dan apllied sociology (sosiologi terapan) yang khusus mempelajari perubahan-perubahan dalam masyarakat karena usaha-usaha manusia. Kekuatan dinamis dalam gejala sosial adalah perasaan.

Vilfredo Pareto (1848-1923)
Sosiologi didasarkan pada observasi terhadaptindakan-tindakan, eksperimen terhadap fakta fakta dan rumus-rumus matematis. Masyarakat merupakan sistem kekuatan yang seimbang dan keseimbangan tersebut tergantung pada ciri-ciri tingkah laku dan tindakan-tindakan manusia dan tindakan-tindakan manusia tergantung dari keinginan-keinginan serta dorongan-dorongan dalam dirinya.
George Simmel (1858-1918)
Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang khusus,yaitu satu-satunya ilmu pengetahuan analitis yang abstrak di antara semua ilmu pengetahuan kemasyarakatan. Objek sosiologi adalah bentuk-bentuk hubungan antar manusia
William Graham Summer (1840-1910)
Sistem sosiologi didasarkan pada konsep in-group dan out-group. Masyarakat merupakan peleburan dari kelompok-kelompok sosial. Empat dorongan yang universal dalam diri manusia yaitu rasa lapar, rasa cinta, rasa takut, dan rasa hampa.
Robert Ezra Park(1864-1944)
Pelopor mazhab Ekologi.  Sosiologi meneliti masyarakat setempat dari sudut hubungan antar manusia.
Karl Mannheim (1893-1947)
Pelopor sosiologi pengetahuan, menelaah hubungan masyarakat dengan pengetahuan. Akar dari segenap pertentangan yang menimbulkan krisis terletak dalam ketegangan-ketegangan yang timbul disemua lapangan kehidupan. Planning for freedom, yaitu semacam perencanaan yang diawasi secara demokratis dan menjamin kemerdekaan aktivitas-aktivitas individu maupun kelompok manusia.
2.2.Kegunaan Teori
Suatu Teori pada hakekatnya merupakan hubungan antara dua fakta atau lebih, atau pengaturan fakta menurut cara-cara tertentu. Fakta tersebut merupakan sesuatu yang dapat diamati dan pada umumnya dapat diuji secara empiris. Teori merupakan hubungan dua variabel atau lebih, yang telah diuji kebenarannya. Variabel merupakan karakteristik dari orang-orang, benda-benda atau keadaan yang mempunyai nilai-nilai yang berbeda, misalnya usia, jenis kelamin, dsb.
Kegunaan Teori antara lain :
1)      Suatu teori atau beberapa teori merupakan ikhtisar daripada hal-hal yang telah diketahui serta diuji kebenarannya yang menyangkut objek yang dipelajari sosiologi.
2)      Teori memberikan petunjuk-petunjuk terhadap kekurangan-kekurangan pada seseorang yang memperdalam pengetahuannya di bidang sosiologi.
3)      Teori berguna untuk lebih mempertajam atau lebih mengkhususkan fakta yang dipelajari oleh sosiologi.
4)      Suatu teori akan sangat berguna dalam mengembangkan sistem klasifikasi fakta, membina struktur konsep-konsep serta memperkembangkan definisi-definisi yang penting untuk penelitian.
5)      Pengetahuan teoritis memberikan kemungkinan-kemungkinan untuk mengadakan proyeksi sosial, yaitu usaha untuk dapat mengetahui kearah mana masyarakat akan berkembang atas dasar fakta yang diketahui pada masa lampau dan pada dewasa ini.
2.3.Perkembangan Teori Sosiologi
Plato (429-347 SM)
Seorang Filosof Romawi. Plato bermaksud merumuskan suatu teori tentang bentuk negara yang dicita-citakan, yang organisasinya didasarkan pada pengamatan kritis terhadap sistem-sistem sosial yang ada pada zamannya. Plato menyatakan bahwa masyarakat sebenarnya merupakan refleksi dari manusia perorangan. Suatu masyarakat akan mengalami kegoncangan, sebagaimana halnya manusia perorangan yang terganggu keseimbangan jiwanya yang terdiri dari tiga unsur pengendali, sehingga suatu negara seyogyanya juga merupakan refleksi dari ketiga unsur yang berimbang atau serasi tadi. Dengan jalan menganalisis lembaga-lembaga di dalam masyarakat, maka Plato berhasil menunjukkan hubungan fungsional antara lembaga-lembaga tersebut yang pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan yang menyeluruh.
Dengan demikian maka Plato berhasil merumuskan suatu teori organis tentang masyarakat, yang mencakup bidangbidang kehidupan ekonomis dan sosial. Suatu unsur yang menyebabkan masyarakat berdinamika adalah adanya sistem hukum yang identik dengan moral, oleh karena didasarkan pada keadilan.
Aristoteles (384-322 SM)
Di dalam bukunya Politics, Aristoteles mengadakan suatu analisis mendalam terhadap lembaga-lembaga politik dalam masyarakat. Pengertian politik digunakannya dalam arti luas mencakup juga berbagai masalah ekonomi dan sosial. Sebagaimana halnya dengan Plato, perhatian aristoteles terhadap biologi telah menyebabkannya mengadakan suatu analogi antara masyarakat dengan organismebiologis manusia. Disamping itu Aristoteles menggarisbawahi kenyataan bahwa basis masyarakat adalah moral (etika dalam arti sempit).
2.4.Teori Sosiologi Ekonomi

Secara historis perkembangan pemikiran Sosiologi Ekonomi antara lain disebabkan oleh berkembangnya paham-paham, pemikiran-pemikiran dan teori-teori tentang ekonomi yang melihat cara kerja sistem ekonomi dengan menekankan pula pada aspek-aspek non-ekonomi.
Salah satu dari paham-paham, teori-teori, pemikiran-pemikiran yang mendukung perkembangan Sosiologi Ekonomi tersebut adalah Paham Merkantilisme, yang berpandangan, bahwa kekayaan dianggap sama dengan jumlah uang yang dimiliki oleh suatu negara dan cara untuk meningkatkan kekuasaan adalah dengan meningkatkan kekayaan Negara.
Didalam kehidupan masyarakat sebagai satu system maka bidang ekonomi hanya sebagai salah satu bagian atau subsistem saja. Oleh karena itu, didalam memahami aspek kehidupan ekonomi masyarakat maka perlu dihubungkan antara faktor ekonomi dengan factor lain dalam kehidupan masyarakat tersebut. Faktor-faktor tersebut antara lain: faktor agama dan nilai-nilai tradisional, ikatan kekeluargaan, etnisitas, dan stratifikasi sosial.
Faktor-faktor tersebut mempunyai pengaruh yang langsung terhadap perkembangan ekonomi. Faktor agama dan nilai-nilai tradisional: ada nilai-nilai yang mendorong perkembangan ekonomi, akan tetapi ada pula nilai-nilai yang menghambat perkembangan ekonomi. Demikian pula dengan kelompok solidaritas, dalam hal ini yakni keluarga dan kelompok etnis, yang terkadang mendorong pertumbuhan dan terkadang pula menghambat pertumbuhan ekonomi.

2.5. Ekonomi dan Sosiologi sebagai Disiplin Ilmu
Pada mulanya, pada periode dominasi pemikiran-pemikiran filosofis, kegiatan ekonomi dan perilaku sosial tidak dapat dibedakan. Keduanya merupakan sebuah kesatuan. Namun seiring peradaban manusia yang semakin maju dan kompleks dengan segala variasinya, ilmu pengetahuan semakin spesifik dan terspesialisasi, ekonomi pun mulai terpisah dari ilmu sosial lainnya.
Baik Ekonomi maupun Sosiologi merupakan disiplin ilmu yang mapan. Munculnya ekonomi sebagai disiplin ilmu dapat terlihat dari fenomena ekonomi sebagai suatu gejala bagaimana cara individu atau masyarakat memenuhi kebutuhan hidup mereka terhadap jasa dan barang langka yang diawali oleh proses produksi, konsumsi dan konsumsi (pertukaran).
Dengan sendirinya dalam pemenuhan kebutuhannya atau dalam melakukan tindakan ekonomi, seseorang akan berhubungan dengan institusi-institusi sosial (dapat dikatakan: berinteraksi sosial) seperti pasar, rumah sakit, keluarga dan lainnya. Smelser mendefinisikan ilmu ekonomi: “studi mengenai cara individu atau masyarakat memilih, dengan atau memakai uang, untuk menggunakan sumber daya produktif yang dapat mempunyai alternatif untuk menghasilkan berbagai komoditi dan mendistribusikannya untuk konsumsi, sekarang atau masa depan, di antara berbagai orang dan kelompok orang dalam masyarakat.
Dalam pandangan neoklasik, mereka menilai bahwa agen ekonomi (individu subjek) adalah independent dan rasional ketika mengejar kepentingan diri, sehingga dapat memaksimalkan manfaat atau keuntungan. Dalam konteks ini (ekonomi) uang dijadikan alat analisis yang dipakai untuk menjelaskan dan menganalisis individu. Dengan menggunakan uang sebagai alat analisis, hasil yang dicapai dari analisis tersebut menjadi eksak dan terukur. Meski penjelasan yang didapat masih bersifat materil saja.
Uang sebagai tolak ukur ternyata menemukan signifikansinya ketika ditempatkan pada wilayah praktek dengan berasumsi individu sebagai independent rasional ketika mengejar kepentingan diri. Dideskripsikan dalam logika dalam berbisnis, yang dalam prakteknya selalu mengusahakan pilihan terbaik agar seseorang (pebisnis tersebut) memperoleh uang sebanyak-banyaknya. Disini tolak ukur yang digunakan dalam menilai kesuksesan seseorang di mata masyarakat adalah uang.
Sedangkan sosiologi merupakan disiplin ilmu yang berkembang manakala masyarakat menghadapi ancaman terhadap hal-hal yang memang sudah seharusnya demikian, benar, dan nyata.
Kelahiran sosiologi berawal dari Eropa Barat di mana terjadi proses-proses perubahan seperti pertumbuhan kapitalisme pada akhir abad ke-15; perubahan-perubahan di bidang sosial dan politik perubahan yang berkenaan dengan reformasi Martin Luther, meningkatnya individualisme; lahirnya ilmu pengetahuan modern berkembangnya kepercayaan pada diri sendiri, dan revolusi industri pada abad ke-18 seerta revolusi Perancis.
Meskipun sosiologi juga menempatkan manusia dan masyarakat sebagai objek material bersama dengan ekonomi namun ia (sosiologi) memiliki perangkat dan wilayah analisis yang berbeda dengan ilmu ekonomi. Sosiologi berusaha memberikan kategorisasi, diferensiasi, simplifikasin dan generalisasi terhadap fakta sosial yang diamati. Dengan demikian dapat disusun variabel-variabel yang dapat dioperasionalisasikan dalam analisis. Elemen-elemen observasinya berupa regularitas, orientasi sosial individu dan kelompok, struktur sosial, sanksi-sanksi, norma-norma, dan nilai-nilai.
Berbeda dengan ekonomi, variabel yang dikembangkan sosiologi tidaklah eksak, pasti atau terukur. Bukan sebuah kalkulasi dari sebuah mekanisme. Karena itu, saat menghubungkan antara variable dalam sosiologi memiliki titik rawan yang berlainan tatanannya. Untuk sebuah variable terikat, jenis yang menjadi variable bebasnya tidak bisa ditentukan kemutlakannya.

2.6. Sosiologi Perikanan 
Sosiologi perikanan merupakan cabang sosiologi yang mempunyai objek khusus yaitu masyarakat pesisir yang hidup dari sumber daya laut seperti, nelayan,buruh,pembudidaya, penangkapan, tambak di daerah air laut, tawar dan air payau sesuai dengan potensi-potensi sumberdaya perikanan di daerah tersebut  (Adnans, 1997).
Peranan Sosiologi Perikanan antara lain (Adnans, 1997):
1.      Masyarakat Perikanan sebagai obyek dalam melaksanakan kehidupannya;
2.      Dapat mendiskripsikan dan memprediksi perilaku anggota masyarakat perikanan;
3.      Mempelajari obyek apa yang terjadi saat Ini, bukan apa yang seharusnya terjadi;
4.      Mengamati indikator-indikator dari proses kehidupan masyarakat perikanan atau di masyarakat pesisir yang sebagian besar mengalami kemiskinan.
Kegunaan Masyarakat Pesisir antara lain (Adnans, 1997) :
1.      Mengetahui gejolak sosial yang terjadi dalam kehidupan masyrakat perikanan ;
2.      Menjadi kebutuhan sarjana perikanan sebagai agen pembaharu yang mampu bekerja secara professional ;
3.      Memberikan penilaian dalam proses perkembangan masyarakat perikanan



BAB III
PEMBAHASAN
3.1.   Sejarah dan Mitos Pantai Pelabuhan Ratu
a.      Menurut Legenda Sunda
Meskipun dalam kepercayaan Jawa, Nyi Rara Kidul adalah bawahan setia Kanjeng Ratu Kidul. Namun, masyarakat Sunda mengenal penguasa spiritual kawasan Laut Selatan Jawa Barat yang berwujud perempuan cantik yang disebut Nyi Rara Kidul sebagai Kanjeng Ratu Kidul. Berikut kisahnya menurut masyarakat Sunda:
Di masa lalu, hiduplah Dewi Kadita, anak dari Raja Munding Wangi, Raja Kerajaan Pajajaran, yang sangat cantik rupawan. Walaupun sang raja memiliki seorang putri cantik, tapi ia selalu bersedih. Hal ini karena ia lebih mengharapkan anak laki-laki. Untuk mewujudkan asanya tersebut, maka Raja pun menikahi Dewi Mutiara, sehingga ia mendapatkan putra dari perkawinan tersebut.
Akan tetapi, Dewi Mutiara ingin agar kelak putranya itu menjadi raja tanpa ada penantang atas takhtanya. Ia pun berusaha menyingkirkan Dewi Kadita. Salah satu caranya adalah dengan menghadap Raja dan meminta agar sang Raja menyuruh putrinya pergi dari istana. Sudah tentu Raja menolak. Namun, Dewi Mutiara pantang menyerah.Keesokan harinya, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk memanggil seorang tukang tenung. Dia meminta sang dukun meneluh Kadita, anak tirinya. Maka, karena teluh sang dukun tubuh Kadita dipenuhi dengan kudis dan gatal-gatal pada esok paginya. Puteri yang cantik itu pun menangis dan tak tahu harus berbuat apa.
Melihat penderitaan putrinya tersebut, maka Sang Raja mengundang banyak tabib untuk menyembuhkan penyakit putrinya. Beliau sadar bahwa penyakit putrinya itu tidak wajar. Seseorang pasti telah mengutuk atau mengguna-gunainya.Namun, masalah menjadi semakin rumit ketika Ratu Dewi Mutiara memaksa Raja untuk mengusir putrinya karena akan mendatangkan kesialan bagi seluruh negeri. Sang Raja terpaksa menyetujui usul Ratu Mutiara untuk mengirim putrinya ke luar dari negeri itu karena beliau tidak menginginkan puterinya menjadi gunjingan di seluruh negeri. Puteri yang malang itu pun pergi berkelana sendirian, tanpa tahu kemana harus pergi. Hampir tujuh hari dan tujuh malam dia berjalan sampai akhirnya tiba di Samudera Selatan. Dia memandang samudera itu. Airnya bersih dan jernih, tidak seperti samudera lainnya yang airnya biru atau hijau. Tiba-tiba ia mendengar suara gaib yang menyuruhnya terjun ke dalam Laut Selatan. Dia melompat ke dalam air dan berenang.
Tiba-tiba, ketika air Samudera Selatan itu menyentuh kulitnya keajaiban pun terjadi. Bisulnya lenyap. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia pernah kudisan atau gatal-gatal. Bahkan dia menjadi lebih cantik daripada sebelumnya. Kini dia memiliki kuasa dalam Samudera Selatan dan menjadi seorang dewi yang disebut Nyi Rara Kidul yang hidup selamanya. Dalam cerita tersebut kawasan Pantai Palabuhan Ratu secara khusus dikaitkan dengan legenda ini.
b.      Menurut Legenda Jawa
Orang  Jawa mengenal sebuah istilah “telu-teluning atunggal” yang artinya tiga sosok yang menjadi satu kekuatan. Yaitu, Eyang Resi Projopati, Panembahan Senopati, dan Ratu Kidul. Panembahan merupakan pendiri kerajaan Mataram Islam.Dalam sebuah tiwikrama sesuai arahan Sunan Kalijaga karena sebuah wangsit untuk membangun sebuah keraton di sebuah hutan ‘alas mentaok” (kini Kotagede di Daerah Istimewa Yogyakarta) Panembahan Senopati dipertemukan oleh Ratu Kidul. Ketika sedang bertapa tersebut,  menurut cerita semua alam menjadi kacau, ombak besar, hujan badai, gempa, dan gunung meletus. Dalam perjumpaannya dengan Ratu Kidul, wanita penguasa laut selatan tersebut setuju membantu dan melindungi Kerajaan Mataram. Bahkan dipercaya menjadi “istri spiritual” bagi Raja-raja trah Mataram Islam.
Bagi orang Jawa, pemahaman tentang penguasa laut selatan yang berkembang di masyarakat Sunda harus diluruskan. Bagi mereka  antara “Rara kidul” dengan “Ratu kidul” sangat berbeda. Dalam kepercayaan Kejawen, alam kehidupan itu terbagi menjadi beberapa tahap, yaitu alam Kadewan, alam Nabi, alam Wali, alam Menungsa (Manusia), dan yang akan datang adalah alam Adil.
Menurut mitologi Jawa, Ratu Kidul merupakan ciptaan dari Dewa Kaping telu yang mengisi alam kehidupan sebagai Dewi Padi (Dewi Sri) dan dewi alam lainnya. Sementara Rara Kidul merupakan Putri dari Raja Sunda yang terusir karena ulah dari ibu tirinya dan menjelma menjadi sosok penguasa setelah menceburkan diri ke laut selatan. Oleh karena itu keduanya beda fase tahapan menurut mitologi Jawa.
c.       Pemitosan Ratu Laut Selatan
Berbagai macam ritual dan penghormatan dilakukan orang untuk menghormati Kanjeng ratu Kidul. Di Karang Hawu, Pelabuhan Ratu misalnya, terdapat tempat petilasan (persinggahan) Ratu Pantai Selatan yang sering dikunjungi orang untuk melakukan ritual tertentu. Komplek  tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat. Terdapat dua ruangan cukup besar dengan beberapa makam yang menurut pandangan penduduk sebagai makam Eyang Sanca Manggala, Eyang Jalah Mata Makuta dan Eyang Syeh Husni Ali. Selain itu juga terpampang gambar sang penguasa Laut Selatan. Bahkan, penghormatan atau pemuliaan kepada Penguasa laut selatan juga terlihat di Vihara Kalyana Mitta, kelenteng di bilangan Pekojan, Jakarta Barat.
Selain itu penghormatan terhadap ratu Laut Selatan juga terlihat pada sedekah laut. Masyarakat nelayan pantai selatan Jawa, seperti pantai Pelabuhan Ratu, Ujung Genteng, Pangandaran, Cilacap, Sakawayana dan sebagainya, setiap tahun melakukan sedekah laut sebagai persembahan kepada sang Ratu karena menjaga keselamatan para nelayan. Selain itu, di saat-saat tertentu juga digelar ritual sebagai rasa terima kasih mereka terhadap sang penguasa laut selatan oelh penduduk setempat.
Bukan hanya penghormatan dan ritual yang melahirkan pemitosan terhadap Ratu Kidul. Bahkan ada semacam larangan memakai pakaian hijau ketika berenang di Pantai Selatan Jawa. Peringatan selalu diberikan kepada orang yang berkunjung ke pantai selatan untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hijau, sehingga mereka tidak menjadi sasaran Nyai Rara Kidul yang akan mengambil mereka untuk dijadikan tentara atau pelayannya.
Pada beberapa hotel di pantai selatan Jawa dan Bali pemitosan terhadap sosol penguasa laut selatan ini bahkan nyata tergambar pada kamar yang disediakan khusus untuk Kanjeng ratu Kidul. Di antaranya, kamar 327 dan 2401 di Hotel Grand Bali Beach. Ketika terjadi kebakaran besar pada Januari 1993, kamar 327 adalah satu-satunya kamar yang tidak terbakar. Dengan keajaiban itu, maka setelah renovasi kamar 327 dan 2401 selalu dirawat, diberi hiasan ruangan dengan warna hijau, diberi sesaji setiap hari, tetapi tidak untuk disewakan. Kamar tersebut khusus dipersembahkan untuk Ratu Kidul. Begitu pula halnya di Hotel Samudra Beach, Pelabuhan Ratu. Kamar 308 disiapkan khusus bagi Ratu Kidul. Di dalam ruangan ini terpajang beberapa lukisan Kanjeng Ratu Kidul karya pelukis Basoeki Abdullah. Di Yogyakarta, Hotel Queen of The South di dekat Parangtritis mereservasi Kamar 33 bagi Sang Kanjeng Ratu. Inilah sedikit gambaran tentang pemitosan sosok Kanjeng Ratu Kidul di masyarakat kita.



3.2.   Upacara Hari Nelayan
Upacara adat yang hidup dan berkembang di Palabuhanratu Sukabumi Jawa Barat merupakan wujud nyata perilaku masyarakat yang menjunjung tinggi para leluhur mereka. Salah satunya adalah upacara Labuh Saji yang dilaksanakan oleh masyarakat nelayan sebagai ungkapan syukur kepada Sang Hyang Widi yang memberikan kesejahteraan dalam kehidupan mereka.
Upacara adat labuh saji merupakan tradisi turun-temurun nelayan Palabuhanratu untuk memberikan penghormatan kepada seorang putri bernama Nyi Putri Mayangsagara atas perhatiannya terhadap kesejahteraan nelayan. Mayangsagara mulai melakukan upacara labuh saji sebagai tradisi tahunan sejak abad ke-15 untuk memberikan bingkisan kepada Nyi Roro Kidul yang waktu itu dipercaya sebagai penguasa laut selatan. Mayangsagara melakukan upacara itu agar rakyatnya mendapat kesejahteraan dari pekerjaan mereka sebagai nelayan.
Mitos yang berkembang menyatakan, Nyi Putri Mayangsagara merupakan putri Raden Kumbang Bagus Setra dan Ratu Puun Purnamasari yang berkuasa di Kerajaan Dadap Malang (kini masuk wilayah Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi). Bagus Setra adalah keturunan Kerajaan Pakuan (Bogor) yang meninggalkan kerajaan dan memilih berdiam di Dadap Malang karena konflik internal.
Dalam syukuran nelayan, sepasang ayah dan putrinya yang digambarkan sebagai Mayangsagara dan Bagus Setra diarak dari Pendapa Kabupaten Sukabumi ke dermaga Palabuhanratu. Mayangsagara dan Bagus Setra yang naik delman menjadi pusat perhatian ribuan pengunjung dalam setiap kali perayaan syukuran nelayan.
Berlokasi di Kelurahan Pelabuhanratu Kabupaten Sukabumi, dilaksanakan setiap tanggal 6 April (Hari Nelayan). Labuh (melabuh/menjatuhkan ) sesajen ke laut dengan harapan agar hasil tangkapan berlimpah setiap tahun dan memelihara hubungan baik  dengan Nyi Roro Kidul.
Dahulu sesajen yang digunakan berupa kepala kerbau/kambing, namun sekarang diganti dengan menaburkan benih ikan, benur (bibit udang), dan tukik (anak penyu) ke tengah teluk Pelabuhanratu.Tukik dan sidad adalah wujud kesuburan laut. Untuk itulah, nelayan menebarnya ke laut dengan harapan laut Palabuhanratu tetap subur dan memberikan banyak ikan bagi setiap nelayan yang turun ke laut.

3.3.   Kehidupan Nelayan Pantai Pelabuhan Ratu
Pelabuhan Ratu - Pantai Pelabuhan Ratu merupakan salah satu obyek wisata kebanggaan Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Pelabuhan Ratu cukup terkenal karena panorama alamnya yang indah, udaranya yang sejuk dan hamparan pasir pantainya yang luas. Keindahan panorama alam perairan pinggiran Laut Selatan itu berpadu dengan cerita mistis tentang seorang ratu penguasan laut selatan.
Pantai Pelabuhan Ratu juga terkenal dengan gelombang air laut (ombak) yang tinggi dan stabil sehingga menjadi tempat tujuan bagi para pecinta surfing dibulan Mei hingga Oktober ketika kondisi ombak sedang tinggi. Beberapa tempat surfing yang biasa sering didatangi wisatawan seperti Batu Guram, Karang Sari, Cimaja, Karang Haji, Indicator, Sunset Beach, Ujung Genteng dan Tujuh Ombak.
Diatas batu karang yang menjorok ke pantai kita bisa melihat deburan ombak yang menabrak karang dengan suara yang bergemuruh serta aktifitas para nelayan setempat yang sedang mencari ikan dikejauhan pantai. Jika kita beruntung kita dapat menemui tradisi-tradisi masyarakat setempat yang biasa dilakukan dipinggir pantai seperti acara pesta laut dengan melarungkan kepala kerbau dan sesaji lainnya ke tengah laut yang biasa di selenggarakan setiap tanggal 5 April. Acara tahunan lainnya yaitu rutial mandi suci yang biasa disebut masyarakat setempat Ngabungbang.
Dibalik keindahan Pantai Pelabuhan Ratu yang mempesona kita secara kasat mata juga disuguhkan dengan aura mistis yang cukup kental, sebut saja Hotel Inna Samudera Beach yang pernah menjadi tempat penginapan favorit Presiden RI Soekarno. Banyak mitos yang berkembang dilingkungan setempat bahkan di Jawa Barat kalau di hotel tersebut Nyi Roro Kidul pernah singgah yang tepatnya dikamar No. 308. Kamar tersebut sering dijadikan tempat bersemedi mencari ketenangan batin dan keberkahan hidup.
Pengunjung/wisatawan hotel boleh melihat-lihat suasana kamar tersebut yang menggambarkan kemegahan istana penguasa pantai selatan dengan dominasi warna hijau dimana merupakan warna kesukaan dari Nyi Ratu Roro Kidul.
Telepas dari semua itu Pantai Pelabuhan Ratu juga merupakan surganya penyu, Pantai Pelabuhan Ratu terkenal sebagai tempat bertelur dan berbiaknya penyu. Kita tentu berharap semoga keseimbangan alam yang terdapat di Pelabuhan Ratu terus tetap terjaga baik itu pesona alamnya dan ekosistem kehidupan sekitarnya.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berencana akan meningkatkan status Pelabu¬han Perikanan Nusantara (PPN) Pelabuhan Ratu menjadi Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS). “Sudah saatnya PPN Pelabuhan Ratu kita tingkatkan statusnya menjadi PPS,  untuk itu tahun depan akan kita akan usulkan ke Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB). Jika  disetujui, kita akan segera  melakukan pembangunan pada 2014,” jelas Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C.Sutardjo di PPN Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Kamis (22/11).
Pasalnya, lanjut Sharif, jika dilihat dari tolak ukur dan persyaratan dan klasifikasi PPN Pelabuhan Ratu terbilang sudah memadai. Hanya saja, yang menentukan ini bisa naik kelasnya menjadi PPS  yakni dari Menteri PAN-RB.
Sharif  menjelaskan, di dalam usulan tersebut tidak hanya PPN Pelabuhan Ratu saja tetapi di dalam usulan tersebut turut pula dimasukkan PPN Ambon, karena dua lokasi tersebut telah memenuhi syarat sebagai PPS jadi tinggal menuju persetujuan dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.
Sementara untuk kriteria persyaratan menjadi PPS, Sharif menjelaskan, yakni tersedianya  fasilitas yang memadai, breakwater,  dermaga yang mampu melayani kapal diatas 100 GT, serta produk perikanan yang berkualitas eskpor.
“PPN Pelabuhan ratu memenuhi persyaratan untuk dapat ditingkatkan menjadi PPS, setidaknya ini terlihat dari, industri-industri perikanan yang sudah berjalan, kapal yang bersandar  pun sudah banyak serta berbagai kelengkapan infrastruktur penunjang telah memadai,” tuturnya.
Peningkatan status PPN Pelabuhan Ratu menjadi PPS  tersebut, lanjut Sharif  untuk mengoptimalkan peran dan fungsi PPN Pelabuhan Ratu sebagai pusat transaksi perikanan dan sebagai media peningkatan pendapatan masyarakat.
“Peningkatan fasilitas maupun kapasitas sarana dan prasarana PPN Pelabuhan Ratu pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas perikanan, serta mendorong berkembangnya usaha perikanan rakyat dan membantu tercapainya iklim yang kondusif bagi pertumbuhan dunia usaha perikanan,” sambungnya.
KKP menyatakan komitmennya untuk  terus berupaya meningkatkan ketersediaan prasarana pendukung pelabuhan perikanan, serta mendorong investasi dari pihak swasta baik pada kegiatan hulu, proses produksi maupun kegiatan hilir untuk menunjang percepatan industrialisasi di sektor perikanan tangkap.
Seperti diketahui sebelumnya, KKP terus menggencarkan, pembangunan dan pengembangan di 816 pelabuhan perikanan di seluruh Indonesia. Pada 2013, KKP berencana akan menetapkan 11 lokasi model percontohan industrialisasi perikanan tangkap. Yakni, 5 lokasi pelabuhan perikanan untuk komoditas tuna tongkol cakalang (TTC) dan 6 lokasi pelabuhan untuk komoditas non-TTC (pelagis kecil dan udang). Selain itu, KKP akan melanjutkan pembangunan pelabuhan perikanan di 20 lokasi dan 22 UPT pusat.
Pembangunan dan pengembangan pelabuhan perikanan ini sebagai langkah nyata KKP untuk menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada komoditas kelautan dan perikanan. Selain itu, merupakan wujud nyata dari implementasi dari Peraturan Presiden No.26/2012 terkait cetak biru pengembangan sistem logistik nasional serta wujud dari Program Peningkatan Kehidupan Nelayan (PKN) yang sebelumnya telah ditetapkan dalam Keppres No.10/2011.
Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Heryanto Marwoto menambahkan, PPN Pelabuhan Ratu merupakan Pelabuhan Perikanan Nusantara yang mampu melayani pendaratan kapal hingga 100 GT, dan menjadi  salah satu tempat pusat pelelangan ikan.
Marwoto menjelaskan,  komoditi ikan yang paling dominan adalah ikan jenis tuna, tongkol, cakalang (TTC)  dan layur.  Komoditas TTC memegang peranan penting di PPN Pelabuhan Ratu dan menjadi komoditas ekspor andalan, khususnya ke Korea, Jepang, dan China.
TTC telah berkontribusi besar terhadap pengembangan industrialisasi di Pelabuhan Ratu, sehingga komoditas inilah yang kita upayakan dilakukan percepatan dan pengelolaannya secara maksimal. Hal tersebut turut pula didukung dengan Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP-RI)  573 yang terletak di  Samudera Hindia terutama di Pantai Selatan Jawa Barat masih berada pada level eksploitasi moderat (sumberdaya perikanan yang masih dapat ditingkatkan). Sehubungan dengan itu, Kabupaten Sukabumi  memiliki tujuh Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI).
Marwoto memperkirakan, untuk komoditas TTC  di PPN Pelabuhan Ratu nilai produksinya mencapai Rp 225 miliar pada tahun ini. “Tiap harinya sebanyak 35 ton/hari ikan tuna didaratkan nelayan di PPN Pelabuhan Ratu. Bahkan, kemarin sore saja ada dua kapal yang mendaratkan tuna sebanyak 18 ton,” jelasnya.
Sementara pada 2011, nilai produksi ikan di PPN Pelabuhan Ratu sebesar Rp 212,84 milyar. Jika dilihat  dari sisi volume sebanyak 13.814 ton, dimana sekitar 64,64 persen (4.930) merupakan komoditas favorit tuna, tongkol, dan cakalang (TTC).
Tercatat, dari bulan Januari hingga November 2012 aktivitas kapal yang masuk di PPN Pelabuhan Ratu sebanyak 5.548 unit kapal, dan kapal yang melakukan aktivitas bongkar muat sebanyak 4.636 unit kapal. Sedangkan, perputaran uang di PPN Pelabuhan Ratu berkisar Rp3- 5 miliar/hari.
Terkait kawasan industri yang berada di PPN Pelabuhan Ratu, Marwoto menjelaskan, KKP akan menyiapkan lahan tambahan seluas 9 ha, lantaran lahan untuk kawasan industri sudah tidak memadai lagi.Tercatat,  ada sebanyak 30  perusahaan yang bergerak di industri perbekalan, pengolahan ikan dan jasa. Sementara untuk mengangkut hasil  perikanan dengan tetap menjaga kualitas dan mutu hasil perikanan yang akan dipasarkan ,  KKP bersama-sama dengan pihak swasta telah menyiagakan sebanyak 21 unit truk ber-refrigerasi (refrigerated truck) dan truk berinsulasi (insulated truck)  untuk  mendistribusikan hasil perikanan dari PPN Pelabuhan Ratu ke wilayah Jakarta dan sekitarnya
Kabupaten Sukabumi berperan penting bagi pengembangan bisnis kelautan dan perikanan di tanah air, mengingat potensinya yang besar serta posisinya yang strategis. Letaknya yang strategis yakni, berhadapan langsung dengan Samudera Hindia yang kaya akan sumber daya perikanan. Di sisi lain, lokasi Sukabumi secara geografis juga berdekatan dengan Jakarta. Apalagi, Jakarta merupakan pasar lokal yang potensial dan menjadi simpul bagi pemasaran produk-produk perikanan di wilayah Jakarta dan sekitarnya serta kota-kota lainnya di Indonesia, sekaligus juga menjadi pintu gerbang untuk ekspor komoditas perikanan ke pasar internasional.



BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Legenda Pantai Pelabuhan Ratu tidak terlepas dari mitos penguasa Pantai Selatan “Nyi Roro Kidul”. Legenda yang beredar di masyarakat tentang penguasa Pantai Selatan tersebut terdapat dua versi, yakni menurut versi Sunda dan versi Jawa.
Berbagai macam ritual dan penghormatan dilakukan orang untuk menghormati Kanjeng ratu Kidul. Di Karang Hawu, Pelabuhan Ratu misalnya, terdapat tempat petilasan (persinggahan) Ratu Pantai Selatan yang sering dikunjungi orang untuk melakukan ritual tertentu. Komplek  tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat.
Kehidupan masyarakat tergantung pada sektor perikanan dan kelautan. Sebagian bersar penduduk sekitar Pantai Pelabuhan Ratu bekerja sebagai nelayan. Tercatat, dari bulan Januari hingga November 2012 aktivitas kapal yang masuk di PPN Pelabuhan Ratu sebanyak 5.548 unit kapal, dan kapal yang melakukan aktivitas bongkar muat sebanyak 4.636 unit kapal. Sedangkan, perputaran uang di PPN Pelabuhan Ratu berkisar Rp. 3- 5 miliar/hari.
4.2.Saran
·         Budaya yang masih kental di Pantai Pelabuhan Ratu harus tetap dipertahankan sebagai warisan bagi generasi penerus bangsa.
·         Infrastruktur yang ada di Pantai Pelabuhan Ratu harus ditingkatkan dan dikembangkan karena pantai ini sangat berpotensi sebagai investasi penghasilan bagi daerah Sukabumi sendiri.



DAFTAR PUSTAKA
§  http://id.wikipedia.org/wiki/Pantai_Palabuhanratu , diakses pada tanggal  5 Maret 2014.



 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar